Kamis, 18 Desember 2014



LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA
PERCOBAAN 4
TITRASI ASAM DAN BASA


10807913_378345308998827_1726366733_n.jpg


                                                                             
Disusun Oleh :
Nama                           : Riski Meliya Ningsih
NPM                            : E1J014147
Hari/Tanggal                 : C1/ Selasa, 18 November 2014
Kelompok                    : 4 (empat)
Co-Ass                         : Sari Yulia Kartika Hasibuan
Dosen Pembimbing     :



LABORATORIUM AGRONOMI
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU
2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Titrasi merupakan salah satu cara untuk mengetahui konsentrasi dari larutan standar sekunder, yaitu larutan yang dimana konsentrasinya didapat dengan cara pembakuan. Yang dubantu dengan larutan standar sekunder atau larutan yang konsentrasinya dapat diketehui secara langsung dari hasil penimbangan, yang ditambahkan indikator pH sebagai penentu tingkat keasaman suatu  larutan.
Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia, seperti biologi, kedokteran dan pertanian. Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut asidimetri-alkalimetri. Sedangkan untuk titrasi atau pengukuran lain-lain sering juga dipakai akhiran –ometri menggantikan –imetri. Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu atau proses atau seni mengukur. Pengertian asidimetri dan alkalimetri secara umum ialah titrasi yang menyangkut asam dan basa.

1.2 Tujuan Percobaan

1.      Mahasiswa mampu menerapkan teknik titrasi untuk menganalisis contoh yang mengandung asam.
2.      Mahasiswa mampu menstandarisasi larutan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat, yang bila dilarutkan dalam air, mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. Basa, secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat, yang bila dilarutkan dalam air, mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif. (Keenan.1980).
Reaksi netralisasi dapat dipakai untuk menentukan konsentrasi larutan asam atau basa. Caranya dengan menambahkan setetes demi setetes larutan basa kepada larutan asam. Setiap basa yang diteteskan bereaksi dengan asam, dan penetesan dihentikan pada saat jumlah mol H+ setara dengan mol OH-. Pada saat itu larutan bersifat netral dan disebut titik ekuivalen. Cara seperti ini disebut titrasi, yaitu analisis dengan mengukur jumlah larutan yang diperlukan untuk bereaksi tepat sama dengan larutan lain. Analisis ini disebut juga analisis volumetri, karena yang diukur adalah volume larutan basa yang terpakai dengan volume tertentu larutan asam (Syukri, S. 1999).
Titrasi merupakan salah satu analisis kuantitatif untuk menentukan molaritas larutan asam atau basa. Proses titrasi ini dengan cara menambahkan larutan baku (larutan yang telah diketahui dengan tepat konsentrasinya) ke dalam larutan lain dengan bantuan indikator sampai tercapai titik ekuivalen(Ardhie:2014).
Larutan basa yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret (pipa panjang berskala) dan jumlah yang terpakai dapat diketahui dari tinggi sebelum dan sesudah titrasi. Larutan asam yang akan dititrasi dimasukkan ke dalam gelas kimia (erlenmeyer), dengan mengukur volumnya terlebih dulu dengan memakai pipet gondok. Untuk mengamati titik ekuivalen dipakai indikator yang perubahan warnanya di sekitar titik ekuivalen. Saat terjadi perubahan warna itu disebut titik akhir (Syukri, S. 1999).
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titran. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titran ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen (artinya secara stoikiometri titran dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”. Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant(Annonim:2013).
Larutan baku adalah larutan yang konsentrasinya sudah diketahui dengan pasti. Larutan baku biasanya ditempatkan pada alat yang namanya buret, yang sekaligus berfungsi sebagai alat ukur volume larutan baku. Larutan baku dapat dibuat dengan cara penimbangan zatnya lalu dilarutkan dalam sejumlah pelarut(air). Larutan baku ini sangat bergantung pada jenis zat yang ditimbangnya/dibuat. Larutan yang dibuat dari zat yang memenuhi syarat-syarat tertentu disebut larutan baku primer(Mira:2012).
            Berikut syarat-syarat yang diperlukan agar titrasi yang dilakukan berhasil :
·        Konsentrasi titran harus diketahui. Larutan seperti ini disebut larutan standar.
·        Reaksi yang tepat antara titran dan senyawa yang dianalisis harus diketahui.
·        Titik stoikhiometri atau ekivalen harus diketahui. Indikator yang memberikan perubahan warna, atau sangat dekat pada titik ekivalen yang sering digunakan. Titik pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir.
·        Volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen harus diketahui setepat mungkin (Hardjono Sastrohamidjojo. 2005) 
            Proses titrasi asam-basa sering dipantau dengan penggambaran pH larutan yang dianalisis sebagai fungsi jumlah titran yang ditambahkan. Gambar yang diperoleh tersebut disebut kurva pH, atau  kurva titrasi.

v  KURVA TITRASI
Bila suatu indikator pH kita pergunakan untuk menunjukkan titik akhir titrasi, maka :
  1. Indikator harus berubah warna tepat pada saat titran menjadi ekivalen dengan titrat agar tidak terjadi kesalahan titrasi.
  2. Perubahan warna itu harus terjadi dengan mendadak, agar tidak ada keragu-raguan tentang kapan titrasi harus dihentikan.
            Untuk memenuhi pernyataan (1), maka trayek indikator harus mencakup pH larutan pada titik ekivalen, atau sangat mendekatinya; untuk memenuhi pernyataan (2), trayek indikator tersebut harus memotong bagian yang sangat curam dari kurva (Khopkar, 2003).
Titrasi asidimetri-alkalimetri menyangkut reaksi dengan asam dan atau basa diantaranya:
ü  Asam kuat dan basa kuat
Reaksi untuk titrasi asam kuat-basa kuat adalah
Untuk menghitung [H+] pada titik tertentu dalam titrasi, kita harus menentukan jumlah H+ yang tetap tinggal pada titik tersebut dibagi dengan volume total larutan.
(Hardjono. 2005)
ü  Asam kuat dan basa lemah
Meskipun istilah penetralan lazim digunakan untuk reaksi apa saja antara asam dengan basa, tak selalu akan dihasilkan larutan yang benar-benar netral. Memang larutan netral hanya diperoleh bila asam dan basa itu sama kuatnya.
Pada hakekatnya titrasi basa lemah dengan asam kuat dapat dipahami seperti cara kerja sebelumnya. Yang perlu diperhatikan adalah tentang komponen utama dalam larutan dan kemudian memutuskan apakah reaksi terjadi menuju sempurna (Keenan, dkk. 1984).
ü  Asam lemah dan basa kuat
Reaksi dalam larutan air dari asam lemah seperti asam asetat, HC2H3O2, dengan basa kuat NaOH dapat dinyatakan oleh persamaan berikut:
Pemaparan lama :
                                         
Pemaparan baru :
Larutan natrium asetat yang dihasilkan agak bersifat basa, karena ion asetat berfungsi sebagai basa dalam larutan air (Keenan, dkk. 1984).
ü  Asam lemah dan basa lemah
Sebagai contoh akhir dari penetralan, perhatikan reaksi dalam larutan air dari asam asetat yang lemah itu dengan basa lemah amonia. Larutan amonium asetat, yang dihasilkan, praktis netral. Ini karena kuat asam ion NH4+ tepat diimbangi oleh basa kuat dari ion C2H3O2-.
Sebagai ringkasan, reaksi asam dan basa yang sama kekuatannya, akan menghasilkan larutan netral. Asam dan basa yang bereaksi dapat keduanya kuat maupun keduanya lemah.

v  Indikator Asam Basa
            Indikator asam basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. Misalnya biru bromtimol (bb); dalam larutan asam ia berwarna kuning, tetapi dalam lingkungan basa warnanya biru. Warna dalam keadaan asam dinamakan warna asam dari indikator (kuning untuk bb), sedang warna yang ditunjukkan dalam keadaan basa disebut warna basa.
            Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang berbeda  (Khopkar. 2003)
            Kebanyakan indikator asam basa adalah molekul kompleks yang bersifat asam lemah dan sering disingkat dengan HIn. Mereka memberikan satu warna berbeda bila proton lepas (Hardjono Sastrohamidjojo. 2005)
            Contoh : Fenolftalein, indikator yang lazim dipakai, tak berwarna dalam bentuk Hin-nya dan berwarna pink dalam bentuk In, atau basa. Struktur Fenolftalein, sering disingkat PP, adalah sebagai berikut :

  
BAB III
METODEOLOGI

3.1  Alat dan Bahan
Ø  Alat
-          Erlenmeyer
-          Buret 50 ml
-          Statif dan klem
-          Gelas ukur 25 mL atau 10 mL
-          Bola hisap
-          Corong kaca
Ø  Bahan
-          NaOH 0,1 M
-          HCl 0,1 M
-          Indikator Penolphetalein
-          BaCl

3.2 Cara Kerja
Ø  Standarisasi larutan NaOH 0,1 M
Mencuci bersih buret yang akan digunakan untuk standarisasi dan bilas dengan 5 ml larutan NaOH. Kemudian memutar kran buret untuk mengeluarkan cairan yang tersisa dalam buret, selanjutnya mengisi buret dengan 5 ml NaOH untuk membasahi dinding buret. Kemudian larutan dikeluarkan lagi dari buret. Larutan NaOH dimasukkan lagike dalam buret sampai skala tertentu. mencatat kedudukan volume awal NaOH dalam buret.
Proes standarisasi:
1.      Mencuci 3 erlenmeyer, pipet 10 ml larutan asam oksalat 0,1 M dan masukkan ke dalam setiap Erlenmeyer dan tambahkan ke dalam masing-masing Erlenmeyer 3 tetes indicator penolphtalein (PP).
2.      Mengalirkan larutan NaOH yang ada dalam buret sedikit demi sedikit smpai terbentuk warna merah muda yang tidak hilang apabila gelas Erlenmeyer digoyang.
3.      Mencatat volume NaOH terpakai.
4.      Mengulangi dengan cara yang sama untuk Erlenmeyer ke II dan III.
5.      Menghitung molaritas (M) NaOH.
Ø  Penentuan konsentrasi HCl
1.      Mencuci 3 erlenmeyer, pipet 10 ml larutan HCl 0,1 M dan masukkan kedalam setiap Erlenmeyer.
2.      Tambahkan kedalam masing-masing Erlenmeyer 3 tetes indikator penolphtalein (PP).
3.      Mengalirkan larutan NaOH yang ada dalam buret sedikit demi sedikit sampai terbentuk warna merah muda yang tidak hilang apabila gelas Erlenmeyer digoyang.
4.      Mencatat volume NaOH terpakai.
5.      Mengulangi dengan cara yang sama untuk Erlenmeyer ke II dan ke III.
6.      Menghitung molaritas (M) HCl.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

-     Standarisasi NaOH dengan larutan BaCl
No
Prosedur
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1
Volume larutan BaCl 0,1 M
5 ml
5 ml
5 ml
5 ml
2
Volume NaOH terpakai
1,5 ml
2,3 ml
2,2 ml
2,0 ml
3
Molaritas (M) NaOH
0,3 M
0,2 M
0,2 M
0,25 M

-     Standarisasi NaOH dengan larutan HCl
No
Prosedur
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1
Volume larutan HCl 0,1 M
5 ml
5 ml
5 ml
5 ml
2
Volume NaOH terpakai
3,0 ml
2,9 ml
2,5 ml
2,8 ml
3
Molaritas (M) NaOH
0,06 M
0,058 M
0,05 M
0,056 M

BAB V
PEMBAHASAN

Ø  Standarisasi NaOH dengan larutan BaCl
1.      Percobaan I
2.      Percobaan II
                                                                 
3.      Percobaan III

Dari percobaan I, II, dan III molaritas NaOH yang didapat 0,3 M; 0,2 M; dan 0,2  M maka rata-rata molaritas NaOH yang didapat yaitu:
Setelah didapat titik akhir titrasinya pada percobaan terhadap HCl,volume NaOH yang hilang dan volume HCl yang dipakai  dicatat pada laporan sementara praktikum, setelah melakukan percobaan sebanyak tiga kali, molaritas NaOH-nya dihitung dan hasil molaritas yang didapat dirata-rata, maka itulah perkiraan molaritas NaOH.

Ø  Standarisasi NaOH dengan larutan HCl
1.      Percobaan I
2.      Percobaan II
                                                                
3.      Percobaan III

Dari percobaan I, II, dan III molaritas NaOH yang didapat 0,06 M; 0,058 M; dan  0,05 M maka rata-rata molaritas NaOH yang didapat yaitu:


BAB VI
PENUTUP

6.1    Kesimpulan
1.      Kadar larutan asam dapat ditentukan dengan menggunakan laruta basa yang sudah diketahui kadarnya,dan sebaiknya kadar suatu larutan basa dapat ditentukan dengan menggunakan larutan asam yang sudah diketahui kadarnya.
2.      Pada standarisasi NaOH terhadap asam oksalat indicator yang digunakan adalah penolftalein atau PP 1 %.
3.      Untuk menentukan konsentrasi suatu larutan asam basa diperlukan larutan standar. Larutan tersebut dibagi 2 yaitu laruta standar primer dan larutan standar sekunder.
4.      Jika pada suatu titrasi menggunakan indicator tertentu timbul perubahan warna, maka titik akhir titrasi telah tercapai.

6.2    Saran
1.      Dalam percobaan sebaiknya ditambah titrasi asam kuat-basa kuat, asam kuat-basa lemah sehingga dapat diketahui perbandingannya.
2.       Dibutuhkan kesabaran dalam proses titrasi pada saat menggoyangkan larutan didalam erlenmeyer, agar terjadi perubahan warna.

BAB VII
PERTANYAAN JAWABAN

1.      Bagaimana caranya agar titik akhir titrasi mendekati titik ekuivalen?
Jawab : Caranya adalah ketika sudah mendekati titik ekivalen usahakan agar penambahan titernya secara perlahan, apabila perlu setengah tetes, biar tidak melewati titik ekivalen terlalu jauh.
2.      Jelaskan dengan singkat fungsi indicator !
Jawab : Untuk memberikan perubahan warna sesuai titik akhir titrasi/titik ekuivalen. Oleh karena itu dibutuhkan pemilihan indicator yang tepat yang dapat memperkecil kesalahan proses titrasi antara asam dan basa.
3.      Jelaskan apakah reaksi dapat berlangsung jika tidak ditambahkan dengan indicator !
Jawab : Tidak semua titrasi membutuhkan indikator. Dalam beberapa kasus, baik reaktan maupun produk telah memiliki warna yang kontras dan dapat digunakan sebagai "indikator". Sebagai contoh, titrasi redoks menggunakan potasium permanganat (merah muda/ungu) sebagai peniter tidak membutuhkan indikator. Ketika peniter dikurangi, larutan akan menjadi tidak berwarna. Setelah mencapai titik ekivalensi, terdapat sisa peniter yang berlebih dalam larutan. Titik ekivalensi diidentifikasikan pada saat munculnya warna merah muda yang pertama (akibat kelebihan permanganat) dalam larutan yang sedang dititrasi.
4.      Tuliskan dengan lengkap reaksi yang terjadi pada reaksi diatas!
Jawab :  1. Titrasi asam basa NaOH dengan asam BaCl2 adalah sebagai berikut :   2NaOH + H2C2O4                 Na2C2O4 + 2H2O
2. Titrasi NaOH dengan HCl. Reaksi yang terjadi sebagai berikut : HCl(aq) + NaOH(aq)            NaCl(aq) + H2O(aq)
5.      Jelaskan pengertian larutan standar primer dan larutan standar sekunder !
Jawab : 1. Larutan standar primer adalah larutan standar yang konsentrasinya sudah diketahui dan dalam proses pembuatannya larutan standar primer ini tidak perlu distandarisasi dengan larutan lain untuk memastikan konsentrasi larutan yang sebenarnya. Contohnya adalah asam oksalat.
2. Larutan standar sekunder adalah larutan yang dipergunakan untuk menstandarisasi/menentukan konsentrasi larutan lain tetapi larutan standar tersebut harus distandarisasi terlebih dahulu untuk memastikan yang sebenarnya. Contohnya adalah NaOH.
6.      Tuliskan syarat-syarat suatu indicator dapat dipakai dalam suatu titrasi!
Jawab: 1.  Memiliki kemurnian 100%
2. Bersifat stabil pada suhu kamar dan stabil pada suhu pemanasan (pengeringan) disebabkan standar primer biasanya dipanaskan dahulu sebelum ditimbang.
3.    Mudah didapatkan (tersedia diaman-mana).
4.    Memiliki berat molekul yang tinggi (MR), hal ini untuk menghindari kesalahan relative pada saat menimbang.
5.    Menimbang dengan berat yang besar akan lebih mudah dan memiliki kesalahan yang kecil dibandingkan dengan menimbang sejumlah kecil zat tertentu.
6.    Harus memenuhi kriteria syarat-syarat titrasi.

DAFTAR PUSTAKA

Annonim. 2013. Titrasi asam-basa. http://lablog92.tumblr.com/titrasi-asam-basa . Diakses 20 November  2014 pukul 20:00 WIB.
Ardhie. 2014. Titrasi asam-basa. http://chemart.mdl2.com/course/view.php?id=9 . Diakses 19 November  2014 pukul 20:00 WIB.
Hardjono, S. 2005. Kimia Dasar. Yogyakarta : UGM. Diakses pada tanggal 20 November 2014 pukul 20:00 WIB.
Keenan, W Kleinferter. 1980. Kimia untuk Universitas. Jakarta : Erlangga. Diakses pada tanggal 20 November 2014 pukul 20:00 WIB.
Khopkar, S M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Universitas Indonesia. Diakses pada tanggal 20 November 2014 pukul 20:00 WIB.
Mira. 2012. Titrasi asam-basa. http://mira-rahayu.blogspot.com/2012/06/titrasi-asam-basa.htmlSastrohamidjojo, Handjono. 2005. Kimia Dasar. Yogjakarta : Gajah Mada University Press. Diakses pada tanggal 20 November 2014 pukul 20:00  WIB
Radhanny. 2012. Titrasi asam-basa. http://radhanny.wordpress.com/titrasi-asam-basa/ . Diakses 19 November 2014 pukul 20:00 WIB.
S, Syukri. 1999. Kimia Dasar Jilid 3. Bandung : ITB. Diakses pada tanggal 20 November 2014 pukul 20:00 WIB. Diakses 20 November 2014 pukul 20:00 WIB.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar