LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA
PERCOBAAN 4
TITRASI ASAM DAN BASA

Disusun
Oleh :
Nama : Riski Meliya
Ningsih
NPM : E1J014147
Hari/Tanggal : C1/ Selasa, 18 November 2014
Kelompok :
4 (empat)
Co-Ass : Sari Yulia Kartika
Hasibuan
Dosen
Pembimbing :
LABORATORIUM
AGRONOMI
PROGRAM
STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Titrasi
merupakan salah satu cara untuk mengetahui konsentrasi dari larutan standar
sekunder, yaitu larutan yang dimana konsentrasinya didapat dengan cara
pembakuan. Yang dubantu dengan larutan standar sekunder atau larutan yang
konsentrasinya dapat diketehui secara langsung dari hasil penimbangan, yang
ditambahkan indikator pH sebagai penentu tingkat keasaman suatu larutan.
Kesetimbangan
asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam kimia dan
bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia, seperti biologi, kedokteran dan
pertanian. Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut asidimetri-alkalimetri.
Sedangkan untuk titrasi atau pengukuran lain-lain sering juga dipakai akhiran
–ometri menggantikan –imetri. Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang
berarti ilmu atau proses atau seni mengukur. Pengertian asidimetri dan
alkalimetri secara umum ialah titrasi yang menyangkut asam dan basa.
1.2 Tujuan
Percobaan
1.
Mahasiswa
mampu menerapkan teknik titrasi untuk menganalisis contoh yang mengandung asam.
2.
Mahasiswa
mampu menstandarisasi larutan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Asam secara paling
sederhana didefinisikan sebagai zat, yang bila dilarutkan dalam air, mengalami
disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif.
Basa, secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat, yang bila
dilarutkan dalam air, mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil
sebagai satu-satunya ion negatif. (Keenan.1980).
Reaksi
netralisasi dapat dipakai untuk menentukan konsentrasi larutan asam atau basa.
Caranya dengan menambahkan setetes demi setetes larutan basa kepada larutan
asam. Setiap basa yang diteteskan bereaksi dengan asam, dan penetesan
dihentikan pada saat jumlah mol H+ setara dengan mol OH-.
Pada saat itu larutan bersifat netral dan disebut titik ekuivalen. Cara seperti
ini disebut titrasi, yaitu analisis dengan mengukur jumlah larutan yang
diperlukan untuk bereaksi tepat sama dengan larutan lain. Analisis ini disebut
juga analisis volumetri, karena yang diukur adalah volume larutan basa yang
terpakai dengan volume tertentu larutan asam (Syukri, S. 1999).
Titrasi
merupakan salah satu analisis kuantitatif untuk menentukan molaritas larutan
asam atau basa. Proses titrasi ini dengan cara menambahkan larutan baku
(larutan yang telah diketahui dengan tepat konsentrasinya) ke dalam larutan
lain dengan bantuan indikator sampai tercapai titik ekuivalen(Ardhie:2014).
Larutan basa
yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret (pipa panjang berskala)
dan jumlah yang terpakai dapat diketahui dari tinggi sebelum dan sesudah
titrasi. Larutan asam yang akan dititrasi dimasukkan ke dalam gelas kimia
(erlenmeyer), dengan mengukur volumnya terlebih dulu dengan memakai pipet
gondok. Untuk mengamati titik ekuivalen dipakai indikator yang perubahan
warnanya di sekitar titik ekuivalen. Saat terjadi perubahan warna itu disebut
titik akhir (Syukri, S. 1999).
Titrasi
asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titran. Titrasi
asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan
menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titran ditambahkan titer sedikit demi
sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen (artinya secara stoikiometri titran
dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”.
Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita
mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan
menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa
menghitung kadar titrant(Annonim:2013).
Larutan
baku adalah larutan yang konsentrasinya sudah diketahui dengan pasti. Larutan
baku biasanya ditempatkan pada alat yang namanya buret, yang sekaligus
berfungsi sebagai alat ukur volume larutan baku. Larutan baku dapat dibuat
dengan cara penimbangan zatnya lalu dilarutkan dalam sejumlah pelarut(air).
Larutan baku ini sangat bergantung pada jenis zat yang ditimbangnya/dibuat.
Larutan yang dibuat dari zat yang memenuhi syarat-syarat tertentu disebut
larutan baku primer(Mira:2012).
Berikut syarat-syarat yang diperlukan agar titrasi yang dilakukan berhasil :
·
Konsentrasi titran harus diketahui.
Larutan seperti ini disebut larutan standar.
·
Reaksi yang tepat antara titran dan
senyawa yang dianalisis harus diketahui.
·
Titik stoikhiometri atau ekivalen harus
diketahui. Indikator yang memberikan perubahan warna, atau sangat dekat pada
titik ekivalen yang sering digunakan. Titik pada saat indikator berubah warna
disebut titik akhir.
·
Volume titran yang dibutuhkan untuk
mencapai titik ekivalen harus diketahui setepat mungkin (Hardjono
Sastrohamidjojo. 2005)
Proses titrasi asam-basa sering dipantau dengan penggambaran pH larutan yang
dianalisis sebagai fungsi jumlah titran yang ditambahkan. Gambar yang diperoleh
tersebut disebut kurva pH, atau kurva titrasi.
v KURVA TITRASI
Bila suatu indikator pH kita pergunakan
untuk menunjukkan titik akhir titrasi, maka :
- Indikator
harus berubah warna tepat pada saat titran menjadi ekivalen dengan titrat
agar tidak terjadi kesalahan titrasi.
- Perubahan
warna itu harus terjadi dengan mendadak, agar tidak ada keragu-raguan
tentang kapan titrasi harus dihentikan.
Untuk memenuhi pernyataan (1), maka trayek indikator harus mencakup pH larutan
pada titik ekivalen, atau sangat mendekatinya; untuk memenuhi pernyataan (2),
trayek indikator tersebut harus memotong bagian yang sangat curam dari kurva
(Khopkar, 2003).
Titrasi asidimetri-alkalimetri
menyangkut reaksi dengan asam dan atau basa diantaranya:
ü Asam kuat dan basa kuat
Reaksi untuk
titrasi asam kuat-basa kuat adalah
Untuk
menghitung [H+] pada titik tertentu dalam titrasi, kita harus
menentukan jumlah H+ yang tetap tinggal pada titik tersebut dibagi
dengan volume total larutan.
ü Asam kuat dan basa lemah
Meskipun istilah penetralan lazim digunakan untuk reaksi
apa saja antara asam dengan basa, tak selalu akan dihasilkan larutan yang
benar-benar netral. Memang larutan netral hanya diperoleh bila asam dan basa
itu sama kuatnya.
Pada hakekatnya titrasi basa lemah dengan asam kuat dapat
dipahami seperti cara kerja sebelumnya. Yang perlu diperhatikan adalah tentang
komponen utama dalam larutan dan kemudian memutuskan apakah reaksi terjadi
menuju sempurna (Keenan, dkk. 1984).
ü Asam lemah dan basa kuat
Reaksi dalam larutan air dari asam lemah seperti asam
asetat, HC2H3O2, dengan basa kuat NaOH dapat
dinyatakan oleh persamaan berikut:
Pemaparan
lama :
Pemaparan
baru :
Larutan natrium
asetat yang dihasilkan agak bersifat basa, karena ion asetat berfungsi sebagai
basa dalam larutan air (Keenan, dkk. 1984).
ü Asam lemah dan basa lemah
Sebagai contoh akhir dari penetralan, perhatikan reaksi
dalam larutan air dari asam asetat yang lemah itu dengan basa lemah amonia. Larutan amonium
asetat, yang dihasilkan, praktis netral. Ini karena kuat asam ion NH4+
tepat diimbangi oleh basa kuat dari ion C2H3O2-.
Sebagai ringkasan, reaksi asam dan basa yang sama
kekuatannya, akan menghasilkan larutan netral. Asam dan basa yang bereaksi
dapat keduanya kuat maupun keduanya lemah.
v Indikator Asam
Basa
Indikator asam basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya
berubah. Misalnya biru bromtimol (bb); dalam larutan asam ia berwarna kuning,
tetapi dalam lingkungan basa warnanya biru. Warna dalam keadaan asam dinamakan
warna asam dari indikator (kuning untuk bb), sedang warna yang ditunjukkan
dalam keadaan basa disebut warna basa.
Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Berbagai indikator
mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna
pada range pH yang berbeda (Khopkar. 2003)
Kebanyakan indikator asam basa adalah molekul kompleks yang bersifat asam lemah
dan sering disingkat dengan HIn. Mereka memberikan satu warna berbeda bila
proton lepas (Hardjono Sastrohamidjojo. 2005)
Contoh : Fenolftalein, indikator yang lazim dipakai, tak berwarna dalam bentuk
Hin-nya dan berwarna pink dalam bentuk In, atau basa. Struktur Fenolftalein,
sering disingkat PP, adalah sebagai berikut :
BAB III
METODEOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Ø Alat
-
Erlenmeyer
-
Buret 50 ml
-
Statif dan klem
-
Gelas ukur 25 mL atau 10 mL
-
Bola hisap
-
Corong kaca
Ø Bahan
-
NaOH 0,1 M
-
HCl 0,1 M
-
Indikator
Penolphetalein
-
BaCl₂
3.2 Cara Kerja
Ø Standarisasi larutan NaOH 0,1 M
Mencuci bersih buret
yang akan digunakan untuk standarisasi dan bilas dengan 5 ml larutan NaOH.
Kemudian memutar kran buret untuk mengeluarkan cairan yang tersisa dalam buret,
selanjutnya mengisi buret dengan 5 ml NaOH untuk membasahi dinding buret.
Kemudian larutan dikeluarkan lagi dari buret. Larutan NaOH dimasukkan lagike
dalam buret sampai skala tertentu. mencatat kedudukan volume awal NaOH dalam
buret.
Proes standarisasi:
1.
Mencuci
3 erlenmeyer, pipet 10 ml larutan asam oksalat 0,1 M dan masukkan ke dalam
setiap Erlenmeyer dan tambahkan ke dalam masing-masing Erlenmeyer 3 tetes
indicator penolphtalein (PP).
2.
Mengalirkan
larutan NaOH yang ada dalam buret sedikit demi sedikit smpai terbentuk warna
merah muda yang tidak hilang apabila gelas Erlenmeyer digoyang.
3.
Mencatat
volume NaOH terpakai.
4.
Mengulangi
dengan cara yang sama untuk Erlenmeyer ke II dan III.
5.
Menghitung
molaritas (M) NaOH.
Ø Penentuan konsentrasi HCl
1.
Mencuci
3 erlenmeyer, pipet 10 ml larutan HCl 0,1 M dan masukkan kedalam setiap
Erlenmeyer.
2.
Tambahkan
kedalam masing-masing Erlenmeyer 3 tetes indikator penolphtalein (PP).
3.
Mengalirkan
larutan NaOH yang ada dalam buret sedikit demi sedikit sampai terbentuk warna
merah muda yang tidak hilang apabila gelas Erlenmeyer digoyang.
4.
Mencatat
volume NaOH terpakai.
5.
Mengulangi
dengan cara yang sama untuk Erlenmeyer ke II dan ke III.
6.
Menghitung
molaritas (M) HCl.
BAB
IV
HASIL
PENGAMATAN
-
Standarisasi NaOH
dengan larutan BaCl₂
|
No
|
Prosedur
|
Ulangan
|
Rata-rata
|
||
|
I
|
II
|
III
|
|||
|
1
|
Volume
larutan BaCl₂
0,1 M
|
5 ml
|
5 ml
|
5 ml
|
5 ml
|
|
2
|
Volume
NaOH terpakai
|
1,5 ml
|
2,3 ml
|
2,2 ml
|
2,0 ml
|
|
3
|
Molaritas
(M) NaOH
|
0,3 M
|
0,2 M
|
0,2 M
|
0,25 M
|
-
Standarisasi NaOH
dengan larutan HCl
|
No
|
Prosedur
|
Ulangan
|
Rata-rata
|
||
|
I
|
II
|
III
|
|||
|
1
|
Volume
larutan HCl 0,1 M
|
5 ml
|
5 ml
|
5 ml
|
5 ml
|
|
2
|
Volume
NaOH terpakai
|
3,0 ml
|
2,9 ml
|
2,5 ml
|
2,8 ml
|
|
3
|
Molaritas
(M) NaOH
|
0,06 M
|
0,058 M
|
0,05 M
|
0,056 M
|
BAB V
PEMBAHASAN
Ø Standarisasi
NaOH dengan larutan BaCl₂
1. Percobaan
I
2. Percobaan II
3. Percobaan
III
Dari percobaan I, II,
dan III molaritas NaOH yang didapat 0,3 M; 0,2 M; dan 0,2 M maka rata-rata molaritas NaOH yang didapat
yaitu:
Setelah didapat titik
akhir titrasinya pada percobaan terhadap HCl,volume NaOH yang hilang dan volume
HCl yang dipakai dicatat pada laporan
sementara praktikum, setelah melakukan percobaan sebanyak tiga kali, molaritas
NaOH-nya dihitung dan hasil molaritas yang didapat dirata-rata, maka itulah
perkiraan molaritas NaOH.
Ø Standarisasi
NaOH dengan larutan HCl
1. Percobaan
I
2. Percobaan
II
3. Percobaan
III
Dari percobaan I, II,
dan III molaritas NaOH yang didapat 0,06 M; 0,058 M; dan 0,05 M maka rata-rata molaritas NaOH yang
didapat yaitu:
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1.
Kadar larutan asam dapat ditentukan dengan
menggunakan laruta basa yang sudah diketahui kadarnya,dan sebaiknya kadar suatu
larutan basa dapat ditentukan dengan menggunakan larutan asam yang sudah
diketahui kadarnya.
2.
Pada standarisasi NaOH terhadap asam oksalat
indicator yang digunakan adalah penolftalein atau PP 1 %.
3.
Untuk menentukan konsentrasi suatu larutan
asam basa diperlukan larutan standar. Larutan tersebut dibagi 2 yaitu laruta
standar primer dan larutan standar sekunder.
4.
Jika pada suatu titrasi menggunakan indicator
tertentu timbul perubahan warna, maka titik akhir titrasi telah tercapai.
6.2 Saran
1.
Dalam percobaan sebaiknya ditambah titrasi asam kuat-basa
kuat, asam kuat-basa lemah sehingga dapat diketahui perbandingannya.
2.
Dibutuhkan
kesabaran dalam proses titrasi pada saat menggoyangkan larutan didalam
erlenmeyer, agar terjadi perubahan warna.
BAB VII
PERTANYAAN JAWABAN
1. Bagaimana
caranya agar titik akhir titrasi mendekati titik ekuivalen?
Jawab : Caranya adalah ketika sudah mendekati titik ekivalen
usahakan agar penambahan titernya secara perlahan, apabila perlu setengah
tetes, biar tidak melewati titik ekivalen terlalu jauh.
2. Jelaskan
dengan singkat fungsi indicator !
Jawab : Untuk memberikan perubahan warna sesuai titik akhir
titrasi/titik ekuivalen. Oleh karena itu dibutuhkan pemilihan indicator yang
tepat yang dapat memperkecil kesalahan proses titrasi antara asam dan basa.
3. Jelaskan
apakah reaksi dapat berlangsung jika tidak ditambahkan dengan indicator !
Jawab : Tidak semua titrasi membutuhkan indikator. Dalam beberapa
kasus, baik reaktan maupun produk telah
memiliki warna yang kontras dan dapat digunakan sebagai "indikator".
Sebagai contoh, titrasi redoks
menggunakan potasium permanganat (merah muda/ungu) sebagai peniter tidak
membutuhkan indikator. Ketika peniter dikurangi, larutan akan menjadi tidak
berwarna. Setelah mencapai titik ekivalensi, terdapat sisa peniter yang
berlebih dalam larutan. Titik ekivalensi diidentifikasikan pada saat munculnya
warna merah muda yang pertama (akibat kelebihan permanganat) dalam larutan yang
sedang dititrasi.
4. Tuliskan
dengan lengkap reaksi yang terjadi pada reaksi diatas!
5. Jelaskan
pengertian larutan standar primer dan larutan standar sekunder !
Jawab : 1. Larutan standar primer adalah larutan standar yang
konsentrasinya sudah diketahui dan dalam proses pembuatannya larutan standar
primer ini tidak perlu distandarisasi dengan larutan lain untuk memastikan
konsentrasi larutan yang sebenarnya. Contohnya adalah asam oksalat.
2. Larutan standar sekunder adalah larutan yang dipergunakan untuk
menstandarisasi/menentukan konsentrasi larutan lain tetapi larutan standar
tersebut harus distandarisasi terlebih dahulu untuk memastikan yang sebenarnya.
Contohnya adalah NaOH.
6.
Tuliskan syarat-syarat suatu indicator dapat
dipakai dalam suatu titrasi!
Jawab: 1. Memiliki kemurnian 100%
Jawab: 1. Memiliki kemurnian 100%
2. Bersifat stabil pada suhu kamar dan stabil pada suhu pemanasan
(pengeringan) disebabkan standar primer biasanya dipanaskan dahulu sebelum
ditimbang.
3. Mudah
didapatkan (tersedia diaman-mana).
4. Memiliki
berat molekul yang tinggi (MR), hal ini untuk menghindari kesalahan relative
pada saat menimbang.
5. Menimbang
dengan berat yang besar akan lebih mudah dan memiliki kesalahan yang kecil
dibandingkan dengan menimbang sejumlah kecil zat tertentu.
6. Harus
memenuhi kriteria syarat-syarat titrasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Annonim. 2013. Titrasi
asam-basa. http://lablog92.tumblr.com/titrasi-asam-basa
. Diakses 20 November 2014 pukul 20:00
WIB.
Ardhie. 2014. Titrasi
asam-basa. http://chemart.mdl2.com/course/view.php?id=9
. Diakses 19 November 2014 pukul 20:00
WIB.
Hardjono, S. 2005. Kimia
Dasar. Yogyakarta : UGM.
Diakses pada tanggal 20 November 2014 pukul 20:00 WIB.
Keenan, W
Kleinferter. 1980. Kimia untuk
Universitas. Jakarta : Erlangga. Diakses pada tanggal 20 November 2014 pukul 20:00 WIB.
Khopkar, S M. 2003. Konsep
Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Universitas Indonesia. Diakses pada tanggal 20 November 2014 pukul 20:00 WIB.
Mira. 2012. Titrasi
asam-basa. http://mira-rahayu.blogspot.com/2012/06/titrasi-asam-basa.htmlSastrohamidjojo,
Handjono. 2005. Kimia Dasar.
Yogjakarta : Gajah Mada University Press. Diakses pada
tanggal 20 November 2014 pukul 20:00 WIB
Radhanny. 2012. Titrasi
asam-basa. http://radhanny.wordpress.com/titrasi-asam-basa/
. Diakses 19 November 2014 pukul 20:00 WIB.
S, Syukri. 1999. Kimia
Dasar Jilid 3. Bandung : ITB. Diakses pada
tanggal 20 November 2014 pukul 20:00 WIB. Diakses 20 November
2014 pukul 20:00 WIB.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar